INDONESIA BUTUH SURAT IZIN BERINTERNET

 

   After long long time ngga bisa nulis, akhirnya ada kesempatan  lagi setelah harus melewati ujian dan segala macemnya. Meskipun ngga nulis, ada aja hal yang pingin gitu dibahas meskipun udah lewat. Udah ngga hot lagi gitu. Tapi ya mau gimana, makin kesini kehidupan makin dinamis, kalo kita ngga ngejar, ya kita yang bakal ketinggalan kereta. Tapi bukan berarti ketika kamu udah dikereta kamu bebas ngelakuin apapun kan? Itu nyambung sama pembahasan kali ini.

   Media sosial. Hampir ngga mungkin ada orang yang ngga make di zaman sekarang. Entah itu dikota maupun di pelosok sekali pun, minimal punya satu media sosial di HP-nya. Karena ya itu tadi, globalisasi makin kenceng, perkembangan teknologi juga memaksa ikut juga mengikuti arus. Tapi ternyata, bisa dibilang beberapa golongan tidak siap akan datangnya internet ini. Ngga semua ya, beberapa golongan aja.

   Baru baru kemaren microsoft mengeluarkan hasil sebuah survei dimana rakyat kita tercinta merupakan warga internet paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Dan tentu saja, sesuai hasil dari survey tersebut banyak warga internet yang “menyerang” akun media sosial microsoft. Ini malah aneh gitu lho.
maksudku, kita udah dikasih tau nih sama microsoft,”Hey, netizen lo itu ngga sopan lho.” Bukannya mawas diri, malah membuktikan kalo memang ngga sopa. Like, the f*ck man?!

   Dan survei ini ternyata udah memasuki tahun kelima. Artinya ini bukan yang pertama kali microsoft melakukan survei tersebut. Tapi pertama kali diserang sampe tutup komen, hehe.

   Perlu diketahui, ada tiga poin yang diambil microsoft sebagai sample. Pertama adalah hoax dan penipuan, yang kedua ujaran kebencian, yang ketiga diskriminasi. Sungguh tidak asing bukan ditelinga kita? Kita sendiri pun bakal manggut-manggut setuju kalau liat kelakuan netizen kita.

    Lho, bukannya orang kita itu yang paling ramah ya di dunia? Pertanyaan itu bisa dibalik, are we? Rakyat indonesia bisa ramah karena sejatinya adalah itu yang menyatukan kita. Keramahan yang menyatukan. Ajaran luhur ini yang makin kesini makin entah kemana. Yang seharusnya dibawa oleh kita ke kehidupan mana pun termasuk kehidupan di dunia maya.

   Dan kebanyakan, orang kita belum bisa menerima pendapat. Beda idol, tengkar. Beda pilihan politik, tengkar. Beda apa dikit tengkar. Hal ini rawan banget terjadi di internet dan rawan banget orang baperan. Ngga tau makin kesini makin banyak banget orang baperan.

   Kembali ke poin yag tadi dimana kenapa indonesia paling tidak sopan. Poinnya banyak. Tapi bisa jadi beberapa poin terjadi pada satu individu. Dan itu pun nanti mengarahnya ke arah yang berbeda-beda. Kita mulai dari sesuatu yang mau ngga mau harus kita akui emang dicari banyak orang. Perhatian. Attention.

   Di internet, gampang banget orang merhatiin kita. Mbikin sensasi dikit, disorot. Mbikin masalah dikit, diperpanjang. Mbikin rame-rame dikit, orang-orang pada kepo. Itulah mudahnya mencari perhatian di internet yang MUNGKIN tidak didapatkan oleh seseorang dikehidupan nyata. Bisa aja dia anaknya pejabat, tapi bapak ibu-nya ngga pernah pulang kerumah. Bisa aja dia anak orang kaya, tapi dia ngga punya temen sama sekali. Atau mungkin aja siapapun yang butuh perhatian, cari aja di internet.

   Attention ini lah yang membuat orang melakukan berbagai hal. Mulai dari sekedar cuitan di twitter, atau story di instagram. Dan dari kelakuannya ini, yang belum tentu bener ini, efeknya efek domino. Merambat dengan cepat yang akhirnya menimbulkan berbagai tanggapan yang tanggapannya ini juga macem-macem. Bahkan tulisan ini termasuk dampak dari efek domino tadi. Kalian nge-share tulisan ini, itu juga masuk ke efek domino itu juga.

   Yang kedua, di dunia maya, we can be anyone. Kita bisa jadi siapa aja. Dan otomatis, kita ngga punya identitas. Kita adalah seseorang yang baru dan bukan diri kita yang asli yang ada di dunia nyata. Hasilnya, kita adalah noone, yang bisa berbuat seenaknya. Dan itu banyak dilakukan oelh akun-akun second ngga jelas. Dateng, ngata-ngatain, cabut. Udah. Kelar. Sopan? Ngga dong. Berpengaruh sama kehidupannya? Mungkin. Mereka peduli? Ngga kayaknya. Kayanya lho ya.

   Emang punya masalah apasih di hidup sampe harus menyerang orang lain baru puas. Kenapa? Di-PHK? Diputusin? Kenapa? Kalau emang stress, main sosmed bukan jalan keluarnya. Meditasi, healing, baca buku. Gitu. Bukan mbacot, nyocot ngomong “anjg, kntl, babi” seenak jidat. Itu juga berlaku di game. Yang biasanya team-nya noob terus gampang banget ngatain. Lambemu lho lamis.

THIS INTERNET. LET PEOPLE DO WHAT THEY WANT AND IGNORE IT.

   Ada sebuah statement kayak diatas dimana ketika kita berinternet, biarkan orang lain melakukan APAPUN sesuka hati mereka, dan kalian cukup bodoamat sama itu.

   Responnya beragam. Tapi sejatinya bila dikerucutkan, semua itu merujuk ke satu hal yang sama.

   Ya emang hidup gini men. Kehidupan kita sejatinya emang gitukan? Ada orang geber-geber sepeda dijalan paling kita cuman “apaan sih gajelas.” Udah. Sama kayak di internet. Orang ngapain aja juga biarin. Pamer mobil, biarin, itu mobil dia. Pamer pacar, biarin, dia yang nembak. Susah amat hidup ente. Kadang yang mbikin capek bermedia sosial itu ya itu. Capek nanggepin. Mangkanya biar ngga capek ngga usah ditanggepin.

   Tapi bukan berarti dengan adanya statement itu kita bisa bebas melakukan apapun. No, nehik, la, ora, tidak. Hidup mereka ya hidup mereka. Biarin. Tapi apa iya hidup kita ngga ngefek ke orang lain? Apa iya mau gitu-gitu aja? Orang brengsek udah banyak ngga usah ikut-ikutan lah.

   Mungkin orang lain ngga berdampak ke kita, tapi hal kecil yang kita lakuin bisa berdampak ke orang lain. Udah berapa kasus bunuh diri gara-gara sosmed? Udah berapa keluarga bertengkar gara-gara hoax yang dikirim, padahal yang ngirim cuman satu orang. Udah berapa orang yang sakit hati dikata-katain stranger? Kedewasaannya itu lho.

   Setelah efek domino itu tadi, efek itu pasti kebawa ke kehidupan nyata. Sedikit banyak bakal ngefek. Perilaku yang ngga sopan di internet, bisa jadi kebawa ke dunia nyata. Atau malah sulit mbedain keprpibadian mana yang harus dibawa pas  hadap-hadapan sama orang asli, mana yang dibawa pas berselancar di jagat maya. Meskipun banyak juga yang ditunjukin di internet itu bukan aslinya.

   Nah, dari rentetan semua ini, siapa aja yang ikut andil dalam lingkaran setan ini? Banyak. Pemerintah, para manusia lintas generasi, orang tua dan anaknya, dan kita sebagai individu.

   Pemerintah sebagai pengatur regulasi harusnya bisa mengurangi hal-hal macam ini. Mungkin dengan dasar alasan tersebut dibuatlah polisi virtual. Meskipun sebenarnya ngeringeri sedap sih. Lanjut aja yuk daripada saya ilang.

     Para manusia lintas generasi. Ada satu dua hal yang menyebabkan gap antar generasi disini terasa sangat jauh. Salah satunya adalah saling tidak mau menghargai. Yang tua merasa punya banyak pengalaman dizamannya yang mana sekarang bukan jamannya lagi. Yang muda, kurang menghargai yang tua karena merasa “lebih” dari mereka. Dari sini polemik-polemik bisa muncul. Ngga usah disebutin cari aja sendiri.

    Hubungan antar orang tua dan anak juga banyak menimbulkan masalah ini. Salah satu kebiasaan yang buruk dari orang tua zaman sekarang adalah ngasih gadget ke anaknya yang masih kecil kisaran balita supaya mereka “diem”. Padahal umur mereka belum cukup. Bahkan anak SD yang kurang bimbingan dari orang tuanya juga bisa berkelakuan buruk di internet. Mereka ngga punya panutan di rumah. Akhirnya mereka belajar di internet. Kayaknya pembahasannya udah agak melenceng deh, tapi itu salah satu poin sih.

   Akhir kata, gunakan kemajuan ini untuk hal yang baik dan maju pula. Manusia di internet juga manusia (kecuali buzzer) maka manusiakan mereka juga. At the end of the day, kita juga hanya seorang manusia kan?

   Oh iya, satu lagi. This is the internet. If you don’t know personally, don’t take it personally. Ok?

Happy Thursday everyone. See ya~~


Komentar

Postingan Populer