“WHO NEEDS SUPPORT SYSTEM?!”
“Who needs a support system?! I can do it on my own!” I've heard that once.
that's why I wrote this.
Sebagai
manusia yang sejak sekolah dasar sudah ditanamkan bahwa kita adalah makhluk
sosial dimana kita saling membutuhkan. Jujur saja, saat itu pikiran kita pasti
hanya sebatas makhluk yang saling menemani, membantu saat gotong royong, atau
teman bermain. Ngga lebih dari itu. But yeah. Growing up sucks. Pada akhirnya
kita mulai tau makna “makhluk sosial” yang sesungguhnya.
Sebagai
makhluk sosial yang hidup di lingkup sosial, tentunya banyak kemungkinan yang
harus siap kita hadapi. Mulai dari tekanan dari banyak pihak, hubungan yang
kurang baik dengan seseorang, bahkan banyak hal lain yang cukup jadi beban
pikiran. Tentunya ini berdampak buruk bagi berbagai aspek kehidupan orang
tersebut.
Mulai dari
kehilangan perilaku positif, berkurangnya kemampuan dalam mengambil keputusan
yang tepat, overthinking, hingga
kurangnya motivasi. Dampak dari itu semua tidak hanya jangka pendek namun
sampai jangka panjang bila dibiarkan begitu saja. Tentu dalam hal ini
dibutuhkan support system.
Support system jika diartikan menjadi
bahasa Indonesia adalah sistem pendukung. Sistem disini bukanlah sistem yang
ada di dalam hp atau laptop kalian. Sudah jelas dari namanya sistem yang
artinya susunan yang teratur. Dan pendukung yang artinya penyokong atau
pembantu. Secara luas dapat diartikan support
system adalah sistem yang berisi susunan tertentu yang membantu kita dalam
keadaan apapun. Susunan disini bisa berisi banyak. Bisa keluarga, teman,
lingkungan atau bahkan hewan peliharaan sekalipun.
Kita mulai
dari keluarga. Keluarga ialah support
system terdekat dalam kehidupan kita. Bisa ayah, ibu, kakak, adik atau
saudara sepupu yang jauh sekalipun. Karena beberapa membuat seseorang lebih
dekat kepada sosok tertentu. Sosok yang dapat dipercaya. Bisa jadi seorang adik
lebih percaya kepada kakaknya. Atau seorang kakak yang dekat dengan ibunya.
Atau bahkan seorang ayah yang dekat dengan anaknya. Berbeda tiap orang.
Namun, tidak
semua keluarga bisa jadi support system.
Banyak faktor. Bisa jadi mental illness
awareness dikalangan keluarganya belum tumbuh dengan baik. Broken home, canggung terhadap orang tua
atau bahkan kepercayaan yang pernah terluka sekalipun dapat menjadikan keluarga
kurang bisa menjadi support system yang
baik. Sekali lagi bukan tidak bisa. Tapi kurang bisa. Sejatinya kepercayaan
terhadap keluarga tidak boleh hilang sepenuhnya. Oleh karena itu kita ke
makhluk sosial terdekat selanjutnya. Teman.
Dimana
kepercayaannya tumbuh lebat di kalangan orang yang tidak memiliki hubungan darah
sama sekali. Lebih bisa jujur, lebih bisa menerima diri sendiri dan bisa lebih
yang lainnya.
Teman se gang, teman sejak kecil, teman nongkrong
dan teman-teman lainnya dapat jadi support
system yang baik. Meskipun tidak jarang bahwa pada faktanya, yang benar-benar menjadi support system hanya segelintir orang
saja. Contoh, setongkrongan ada 7 orang. Kebanyakan dari kita cukup bercerita
ke 1 2 orang saja. Ngga kesemuanya kita ceritain.
Begitu pula
dengan hewan. Hewan yang bisa memberi kenyamanan bisa jadi merupakan support system. Malahan, di Amerika, ada
yang namanya Emotional Support Animal
(ESA). Mereka bukan hewan peliharaan dan bukan pula hewan pemandu. Hewan-hewan
ini tercatat dalam hukum karna sang pemilik harus memiliki surat izin. Uniknya,
hewan ini tidak terbatas spesies. Karena tujuan utamanya ialah membuat tenang
pemiliknya.
Sebagai
individu, kita juga ngga boleh nutup diri. Kita ngga boleh semena-mena merasa
tidak membutuhkan support system.
Ntar down, nangis. Mending mulai
cari. Entah itu mempererat hubungan pertemanan, lebih terbuka kesesama dengan
tau batas-batasnya. Atau bahkan langkah yang cukup besar, yaitu mencoba dekat
dengan orang tua. Jangan melulu kita menuntut orang lain harus begini begitu
kalau kita sendiri ngga begini begitu. Mulai dari diri sendiri dulu aja.
Emang
seberapa penting support system? Tiap
orang presentasenya beda-beda. Tapi kalo ditanya penting apa ngga jawabannya
jelas penting. Benefits-nya banyak. Support system membantu kita dalam
berbagai keputusan kita. Entah itu besar ataupun kecil. Oleh karena itu penting
juga untuk memilah dan memilih lingkungan kita. Keputusan yang krusial apalagi.
Selain, dipikir matang-matang oleh diri sendiri, support system dapat membantu sedikitlah.
Orang-orang
yang dalam lingkup support system juga seringkali membuat kita merasa aman dan
nyaman. Membuat kita merasa “dirumah”. Terutama untuk orang-orang yang jauh
dari daerah asalnya. Untuk meraka yang sering mengalami homesick. Untuk mereka yang mencari ketenangan.
It makes you like at home.
Tidak sedikit
pula yang mencurahkan isi hati dan keluhannya kepada para support system. Atau bisa lebih agak kasar dikit memuntahkan semua keluh kesahnya.
Seorang pria yang pulang kerja tapi mampir dulu ke sebuah bar hanya untuk
menenggak satu dua gelas dan bertemu teman-temannya. Bisa juga seorang siswa
yang bosan dengan pelajaran lalu memutuskan bolos bersama beberapa temannya di
warkop dekat sekolah. Semua itu bertujuan mengurangi rasa stress. Meskipun
kasus hilangnya stress sedikit, setidaknya menguranginya bareng support system.
Sebagai
individu yang membutuhkan support system,
sudah sejatinya kita juga dibutuhkan sebagai support system. Jangan cuman mau didukung ngga mau ndukung. Enak
banget uripmu! Setidaknya kalau ada orang cerita didengerin, kasih saran. Kalau
ngga bisa kasih saran, minimal ngga usah ngadu nasib. “Lu mending. Lah aku...”
rai mu a! Harus bisa menempatkan diri
juga sebagai support system seseorang
karna kalian juga penting dikehidupan seseorang. Intinya tau diri dan bisa
nempatin diri. Inget! Saling mbantu.
Kalau udah
mentok sama support system gimana?
Yaa, back to yourself. Semua
ujung-ujungnya akan kembali ke masing-masing kita. Pada akhirnya, perbuatan,
pikiran semuanya kembali ke diri sendiri. Mangkanya take a break itu penting. Me
time juga hak dari tubuhmu. Kasihlah hak itu.
Dari semua
yang sudah dibantu oleh support system,
semua saran mereka, semua bantuan mereka yang pada akhirnya membuat kita
berkembang, harus ada kesadaran dari diri sendiri bahwa kita ngga boleh
ngecewain mereka. Kita ngga boleh stuck dengan
diri kita yang lama. Terus tumbuh, terus belajar dan terus berkembang jadi
lebih baik lagi.
Karena
sejatinya kedewasaan dibentuk bukan dari usia tapi peristiwa. Setiap peristiwa
memberikan pelajaran. Setiap pelajaran menjadikan kita berkembang.
Jadi ngga ada
salahnya setiap kali kita melewati fase yang baru kita mempunyai wajah yang
“baru” pula. Asal jadi lebih baik.
Kayak slogan-slogan susu buat bayi dibawah lima tahun,
“tumbuh dan berkembang.”
Sebagai
penutup, semua tulisan diatas ialah pendapat pribadi dibarengi sedikit riset
dan survey di Internet. Semuanya belum tentu 100% benar tapi ngga 100% salah
juga. Setelah ini kayaknya bakal ada pro-kontra. Kayaknya. Kalau pun memang ada yang bisa
didiskusikan, bisa DM ke @ndy.fandy atau @yourfavoritepotatochips. Kalo kata
D’Masiv mah “tak ada manusia yang terlahir sempurna..”.
See ya~





.jpg)
Komentar
Posting Komentar