VISI PERIPHERAL #02: Lo-Fi, TEMAN DIKALA SEPI.
Februari
sudah memasuki minggu ke-2 yang mana tandanya, sudah saatnya kembali kepada
kebiasaan lama setelah sebelumnya long
weekend liburan imlek kemarin. Semua sudah saatnya kembali ke rutinitas dan
semua aktifitas yang (mungkin) bisa membuat kita penat. Wajar banget. Namanya
aja manusia, kalo ngga sehat dipaksa, ya terpaksa tipes. Sehat-sehat semua.
Selain
kesehatan fisik, mental juga harus dijaga. Kali ini aku ngga bakal mbahas
mental illness dan semacamnya karena satu, takut salah, kedua, bukan pakarnya
dan ilmuku dikit. Jadi mbahas yang ringan-ringan aja, tapi masih seputar itu.
Dan tentunya masih dalam lingkup musik karena emang segment ini mbahas musik.
Ayok kenalan sama yang namanya lofi.
Mbacanya Lo-Fai. Lo-Fai. Ok next.
Bagi yang
kurang familiar sama yang namanya lofi, kalo kalian pernah denger melody-melody
tanpa ada vokalnya tapi ada suara-suara yang “tidak seharusnya” ada disitu
juga. Kayak suara hujan, suara radio, suara jalan, pokoknya suara yang
seharusnya ngga ada disebuah lagu. Itu bisa dibilang lofi. Secara garis besar
kurang lebih kayak gitu.
Kalau
dijabarkan lebih luas lagi, Lo-fi dapat diartikan “low fidelity” atau
kualitas lagu yang lebih rendah dari rekaman musik yang lain sehingga banyak
suara yang “bocor” namun malah menjadi nilai estetika yang apik. Begitulah
kira-kira mengapa dapat disebut Lo-Fi.
Genre ini sebenarnya udah ada sejak tahun 90-an menurut wikipedia, namun baru booming di kalangan kawula muda akhir-akhir ini. Mungkin salah satu penyebabnya ialah tingkat stress yang cukup meningkat seiring pertambahan usia. Musiknya yang tenang, tidak perlu mendengarkan lirik dan cenderung memberikan sensasi rileks ini lah yang dicari banyak orang. Kayaknya juga ngga anak muda juga deh. Beberapa orang yang cukup dewasa suka ndengerin genre ini.
Yang paling
terkenal itu channel ChilledCow yang
muterin lagu lofi Live 24 JAM. NONSTOP. jadi kalau emang nyari fokus, atau lagi
pingin sans ngga pengen diganggu bisa
capcus kesitu. By the way kolong wewe, ada hal unik lain yang mbikin si lofi
booming.
Tak lain dan
tak bukan karena banyak lagu genre lain dijadikan lofi. Secukupnya dari hindia,
lagu-lagu lawas peterpan, dan masih banyak lagi. Bedanya, mungkin lagu-lagu ini
ada vokal dari lagu bawaanya. Ada banyak channel
di youtube yang nge-re-create lagu-lagu yang bukan lofi, jadi lofi. Kepoin ae
semua.
Genre ini sebenernya
cukup dibutuhkan, terutama yang memang perlu ketenangan dan pelarian karena ya
itu tadi, alunannya lembut, nada-nadanya mbikin tenang dan tak ketinggalan
efek-efek yang “bocor” menambah estetika tersendiri.
Wajib banget
dicoba kalau kalian emang susah fokus sama sesuatu karena lagu ini ngga
membuyarkan konsentrasi kalian. Ngga kayak lagu-lagu genre lain. Katakanlah
k-pop, rock, atau malah dangdut. Semua musik itu bakal membuyarkan konsentrasi
kalian karena emang bukan “waktunya”. Secara pribadi gitu. Gatau lagi kalau
beberapa orang sante aja dan bisa fokus. Mungkin beda kasus.
Anyway, mungkin segitu dulu.
Ngga panjang lebar amat. Karena emang musik ini sederhana. Aransemennya simple,
fungsinya sederhana, dan emang dibutuhkan pada waktu yang apa-apa “sederhana”
ajah. Kesederhanaan dalam “ketidaksempurnaan”. Asix. Thx guys. Ciao.



.jpg)
Komentar
Posting Komentar