“LELAKI YANG MENANGIS DI JAM SETENGAH 2 MALAM”
10 Oktober, 14.00 WIB
“Hmm, emang iya kayak gini? Ngga deh kayaknya.”
Gumamnya merasa
tulisannya kurang menarik. Suasana kafe yang tenang, serta diputarnya lagu Payung Teduh tetap membuatnya gelisah.
Karena ini tulisan pertamanya. Harus bagus. Meski tidak sempurna, setidaknya
tidak memalukan. Karena menembus podcast favoritnya
merupakan goals sejak lama,
setidaknya untuk jangka pendek.
“Memangnya iya ya? Menjadi anak pertama dan cucu pertama
dari kedua pihak keluarga besar merupakan hal yang sulit?” dalam hati ia
bertanya.
Bukannya apa, ia
sendiri seorang remaja laki-laki yang sedang duduk dibangku 12 SMA. Ayahnya,
kakeknya, kakek buyutnya, dan seterusnya sampai tujuh turunan keatas merupakan
anak laki-laki pertama.
Beban? Ya. Berat?
Tentu, karena sejatinya, mau tidak mau, suka tidak suka, akan dijadikan role model oleh 15 sepupu lainnya. Dan
tentunya jadi harapan besar untuk keluarga besar. Salah satu pertanyaan
mengganjal ialah, Kapan.
10 Oktober, 16.00 WIB
Baru saja menaruh
laptop dikamarnya, ibunya pamit hendak ke rumah sakit.
“Mau kemana ma?” tanyanya agak kesal.
“Nemenin ayah. Ayah mau dipindah kamar. Agak lemes juga
katanya.”
“Pulang kapan?”
“Ya ndak tau mas. Doain aja cepet pulang.”
Ia diam. Ayahnya
sudah langganan tipes. Badannya kuat, tapi sekali sakit, meski hanya setahun
sekali, bisa 2 minggu lamanya berbaring. Opname memang jalan satu-satunya.
“Terus mbah gimana?”
“Kata ayah dipindah ke ruang isolasi. Udah ngga memungkinkan
kondisinya.”
“Masih sesak?”
“Iya.”
“Yaudah titip salam aja.”
Ibunya cukup
mengangguk dan lekas pergi. Iya. Ibu dan anaknya berada disatu rumahsakit yang
sama. Dengan keadaan yang bisa dibilang sama. Bedanya, sang ibu lebih kritis.
Wajar. Usia.
10 Oktober, 18.00 WIB
“Aku pingin sayur asem.” Saut lirih neneknya.
“Iya. Nanti kalau sudah keluar dibuatkan.” Saut anak
ketiganya.
Lima orang anak,
dan satu ibu sedang videocall lewat whatsapp. Silaturahmi bagaimana pun juga
harus tetap terjalin. Meskipun 2 orang diantaranya berada dirumah sakit.
“Eh, aku ngga bercanda, ini nenek kayaknya sesak lagi.”
Celetuk cucu perempuannya yang kebetulan menjaga sang nenek.
Mimpi buruk mulai
terajut. Sang nenek harus dilarikan ke ruang ICU. Ketiga anaknya yang berada
diluar kota langsung tancap gas. Tak pikir panjang. Mereka merasa harus pulang.
Pulang ke ‘rumah’.
10 Oktober, 20.00 WIB
Tak perlu waktu
yang lama, ketiga anaknya sudah sampai dirumah sakit. Beberapa anak dan istri
dititipkan dirumah sang kakak pertama. Disini, firasatnya sudah mulai tidak
enak.
“Lho, mamamu mana mas?” tanya tantenya dari wonoayu.
“Nemenin ayah te dirumah sakit.”
“Belum pulang ayahmu?”
“Belum te. Trombosit-nya
masih rendah.” Jawabnya untuk kesekian kalinya hari itu.
Bagaimana tidak,
hampir orang satu kota mengenal ayahnya. Selain karena kedudukan keluarga, juga
karena banyak orang yang bergantung pada ayahnya. Memang orang baik selalu
dicari ketika menghilang.
10 Oktober, 21.00 WIB
“Nenek udah ngga ada.”
Sialan. Suara dari
telpon itu. Sepertinya bukan waktu yang tepat. Atau malah tidak ada waktu yang
tepat. Tidak ada yang siap. Tidak ada yang siap kehilangan. Bahkan seorang anak
pelajar SMA yang jarang menangis pun harus berlinang air mata malam itu.
Menenangkan adik-adiknya. Menenangkan anak-anak sang nenek.
Tadi siang, ia
menulis tentang sebuah tanggung jawab menjadi cucu pertama. Selisih 7 jam, ia
sudah mendapatkan tugas pertama. Seperti Tuhan memberikan jawaban kontan
langsung. Yang tidak ia sadari ialah ada tanggung jawab lain dalam beberapa jam
kedepan.
11 Oktober, 01.30 WIB
Ia sudah lupa kapan
terakhir kali mengantarkan seseorang ke peristirahatan terakhirnya. Seingatnya,
ia ikut mengubur seorang ketua RT yang disayangi warganya. Sekarang, neneknya.
Yap, tanggung jawab kedua. Mewakili sang
ayah, anak pertama dari sang nenek. Jikalau bukan karena tipes, ayahnya sudah
pasti ada disana mengantar sang ibunda.
“Rekam mas. Siapa tau buat kenang-kenangan.”
“Iya om.” Balasnya.
Jawaban setengah
hati. Jawaban yang berat. Siapa yang mengira ia harus merekam pemakaman sang
nenek. Biasanya pemakaman didatangi oleh banyak orang dan sanak keluarga. Namun
karena ini jam 2 pagi, ditambah virus bangsat ini juga belum hilang, pemakaman
pun hanya dihadiri kurang lebih 20 orang. Itu yang ia lihat. Itu pun kalau
semuanya orang.
Ia mulai merekam ketika pamannya sedang videocall dengan sang anak pertama yang
tak bisa apa-apa. Berbaring lemas. Melihat pemakaman sang bunda via daring.
Catatan kaki:
Kisah ini diambil dari
kisah nyata dari seorang remaja yang mempertanyakan arti sebuah tanggung jawab.
Lalu Tuhan memberinya tanggung jawab. Sebagai anak pertama serta cucu pertama.
Mewakili sang ayah dan menjadi cucu yang ikut mengantar sang nenek ke
peristirahatan terakhir.
Bangsatnya, sang
ayah harus jadi orang yang paling tersakiti. Bagaimana tidak, sebagai anak
pertama dari lima bersaudara, serta dekat dengan sang ibu, tidak adil rasanya
jika ia hanya berada diatas ranjang dengan infus ditangan kanan, melihat liang
lahat ibu via daring. Seorang diri dikamar rumah sakit. Menangis. Menangis
sendiri. Menangis sendiri tanpa anak istri ataupun adik-adik.
Ya, dialah lelaki
yang menangis dijam setengah 2 malam.


.jpg)
Komentar
Posting Komentar