CLAPPERMAN #00: APA HOBIMU? NONTON FILM.


   Industri film merupakan salah satu industri di dunia yang punya pasar yang sangat amat luas. Genrenya yang beragam, aktor dan aktris yang menjadi idola banyak fansnya, sampai munculnya berbagai franchise dan series menjadikan industri ini bakal timeless. Ngga heran salah satu entertainment ini punya banyak penikmat. Salah satunya aku.

   Kenapa kok aku suka film? Satu, karena termasuk hobi yang murah. Kita ngga perlu mengeluarkan modal yang besar saat kita nonton film. Katakanlah kita nonton di bioskop (meskipun kondisinya sekarang kurang memungkinkan) kita cukup ngeluarin budget dibawah seratus ribu. 50ribu buat tiket 25 ribu buat popcorn. Simple. Kalau pun mau ngga keluar modal, tunggu aja filmnya diputer di TV. Dimana biasanya nunggu 2-3 tahun dulu ditambah banyak adegan yang dipotong.

   Atau bisa langganan layanan streaming legal. Sebut netflix, disney+, HBO MAX, HBO GO, dan masih banyak lagi. Mulai sekarang coba jadi penikmat film yang menghargai para sineas dengan cara yang simple. Ngga nonton film disitus bajakan. Bisa kan?

   Banyak alasan buat seseorang nonton film. Bisa karena emang suka alur critanya, suka sama aktor yang main, suka sama produser atau sutradaranya, suka sama genrenya, atau emang gabut ajah. Atau malah ada yang nonton karena lagi hype. Aku? Aku tipikal yang suka critanya. Meskipun kadang juga karena salah satu alesan diatas. Tapi mostly, karena crita.

   Sebut aja kayak parasite, interstellar, janji joni dan masih banyak film yang jalan ceritanya udah ketebak, tapi karena pengemasannya bagus dari berbagai aspek, ceritanya jadi keangkat juga bagusnya. Ngomongin soal cerita, pasti banyak juga buku yang ceritanya bagus. Ngga sedikit juga film diambil dari sebuah buku.

   Sebut aja Harry Potter, Lord of The Ring, The Hobbit, sampai laskar pelangi. Semua diangkat dari buku. Meskipun menurutku mengangkat cerita dari sebuah buku itu adalah keputusan yang cukup krusial. Apalagi kalau bukunya bagus dan best seller. Buku yang best seller tidak menentukan bahwa filmnya akan ikut bagus dan laris dipasaran.

   Alasannya? Karena saat kita mbaca buku, imajinasi yang kita bayangkan adalah imajinasi kita yang sudah pasti ekspetasi kita tinggi terhadap cerita dan buku tersebut. Nah, disitulah tantangan bagi pembuat film. Apakah bisa mencapai ekspetasi para pembaca bukunya atau malah melebihi. Emang ada film yang kurang daripada bukunya? Ada dong. Contohnya Negri 5 Menara. Sebagai pembaca trilogi buku karya A. Fuadi tersebut, aku cukup kecewa sama filmnya. Udah gausah dipanjangin. Lanjut.

   Untuk genre aku prefer action, adventure, fantasy sama comedy. Selain itu bukannya ngga suka, tapi ngga bakal nonton kalo ngga kepengen banget. Horor apalagi. Horor yang banyak jumpscare nya, haduuuh. Mending nonton upin ipin ae lah. Horor gore apalagi. Dulu sempet trauma nonton gore gara-gara nonton Final destination pas kelas 1 SD. Baru mau liat itu SMP kelas 3 sangking traumanya. Horor yang aku masih kuat nontonnya itu horor disturbing kayak midsommar sama heriditary. Itu horor ganggu banget meski nihil jumpscare.

   Kenapa suka action? Soalnya suka pukul-pukulan. Kenapa suka adventure? Seru. Kenapa suka fantasy? Emang suka hal-hal berbau imajinatif. Kenapa suka comedy? Men, hidup udah banyak cobaanya. Ketawa dikit-dikitlah. Meskipun kadang bete banget kalo film berlabel comedy, tapi ngga lucu. Aneh bet aneh.

   Mungkin ini segment gatau rutin atau ngga, soalnya yaaa jadwal bulan depan juga agak padet. Gatau bakal publish tiap minggu atau ngga. Ini ada yang mbaca aja masih belum tau. Wkwkwk. Tapi kalau visi peripheral bakal tetep tiap senin sih.

See ya~

 

Komentar

Postingan Populer